Artikel

Pesantren Yang Saya Kenal
Oleh : Ahmad Zainal Makin

Sebenarnya, saya merasa risih berbicara tentang Pesantren. Karena, saya belum pernah menghirup udara Pesantren dalam kurun waktu yang lama. Namun setidaknya, pengalaman hidup yang sebentar di Pesantren, mengukir sesuatu yang berbeda di benak saya.
Pesantren, merupakan lembaga pendidikan yang mengkaji ilmu-ilmu agama secara mendalam melalui literatur-literatur kuno (Kitab Kuning)dengan berbagai metodenya. Bahkan di masa lalu, Pesantren juga sebuah lembaga yang betul-betul penting keberadaannya, agent of chang. Terbukti dengan adanya laskar-laskar perang yang berjuang melawan penjajah bangsa Indonesia. Bahkan cikal bakal terbentuknya organisasi massa terbesar, NU, juga berakar dari Pesantren. Namun Pesantren sekarang sudah mengalami metamorfosa yang macam-macam. Dengan adanya Pesantren modern, merupakan wujud perpaduan antara kajian-kajian salaf dengan berbagai macam disiplin ilmu umum/kekinian.
Termasuk sekarang dengan adanya pesantren billingual(dua bahasa), Pesantren pertanian, Pesantren industri dll. Bahkan sekarang ini juga banyak Pesantren yang menerapkan sekolah formal, mengacu kurikulum pemerintah. Disatu sisi hal ini menunjukkan sungguh pesantren merupakan lembaga pendidikan yang dinamis. Namun disisi lain, pesantren banyak mengalami pergeseran nilai dan lebih ektrem lagi beralih fungsi, sebagai kos-kosan murah. Tentunya hal ini sangat ironis sekali, Pesantren yang dipandang sebagai benteng bagi pemuda, kurang bisa berfungsi maksimal.
Pesantren di asuh oleh seorang Kyai/Ulama’. Sedang sebutan bagi yang belajar di Pesantren adalah santri. Entah dari mana asal muasal kata tersebut. Menurut hemat saya, kata santri yang terdiri dari huruf siin(س), nun(ن), ta’(ت), ra(ر), ya(ي) mengandung arti : siin(س)saatirul ‘Uyub (orang yang bisa menutupi keburukan/aib). Disini dimaksudkan seorang santri mampu menutup keburukan/aib baik miliknya sendiri, maupun orang lain. Tidak mengumbar kejelekan orang lain di mana-mana. Sebab dengan begitu Allah juga akan menutup aib pribadinya.
Huruf nun (ن) Naaibul ‘Ulama (pengganti/penerus ‘Ulama). Seorang ‘Ulama, kyai sudah sepantasnyalah lulusan Pesantren. Akan sangat lucu bilamana seorang yang tidak pernah nyantri kemudian dipanggil ‘Ulama. Padahal dia hanya belajar dari buku-buku terjemahan, kitab kuning pun tidak paham. Santri, sebagai generasi ‘Ulama kyai diharapkan betul-betul bisa mengusai ilmu-ilmu Pesantren.
Ta’(ت), taarik ‘an al ma’ashi (meninggalkan dari maksiat). Bahkan setiap kita pun haruslah berupaya sebisa mungkin menghidari dan meninggalkan maksiat, sesuatu yang di larang Allah. Jangan samapi kita terperosok ke dalam jurang yang kita sulit untuk keluar darinya. Setiap apa yang kita lakukan pasti akan ada konsekuensinya. Sehingga sangat ironis sekalai, ketika di Pesantren ada kasus pencurian, dll.
Orang-orang luar Pesantren yang sangat bersimpati dengan pola hidup santri, pasti akan terperanga mengetahui adanya hal ini. Padahal tujuan dari orang tua menaruh anak-anaknya di Pesantren adalah untuk memperbaiki moral, tapi kalau lembaga Pesantren sudah ternodai dengan hal seperti ini akan dibawa kemana generasi kita?
Ra’(ر), raafi’ud darojaat (yang mengangkat derajat). Seorang santri diidamkan untuk bisa mengangkat derajat dirinya sendiri, pesantren, dan terlebih orang tua. Baik derajat di dunia dan di akhirat. Jangan berpandangan sempit tentang derajat. Derajat bukan berarti hanya jabatan semata. Sebab yang paling penting adalah derajat di sisi Allah.
Ya(ي),yarham, (belas kasih). Sifat belas kasih sudah dicontohkan oleh Allah. Yang senantiasa mengasihi setiap orang, tanpa pandang bulu. Dari kacamata dunia, orang-orang diluar sana, kadang lebih kelihatan hidup bahagia dengan gemerlap harta benda. Padalah mereka kadang berkelakuan diluar batas. Tapi mengapa Allah justru mencukupinya? Sebaliknya orang yang senantiasa beribadah menyembah dan taat kepada Allah, justru serba kesusahan di dunia ini, sulit tempat tinggal, makan, pakaian pun hanya seadanya. Itulah sirrullah yang bisa mengandung multitafsir. Kafa bikadza, waallohu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar